Zhongli, Taiwan – Deru mesin kereta api yang melintas di Stasiun Zhongli malam itu seolah tertutup oleh syahdu lantunan ayat suci Al-Qur’an. Di sebuah sudut bangunan yang dikenal sebagai Mushola Al-Amin, sekitar 200an jamaah yang didominasi oleh Pekerja Migran Indonesia (PMI) berkumpul dengan satu tujuan: menjemput keberkahan malam pertama Ramadhan 1447 H, Rabu malam (18/2/2026).

Kehadiran ratusan jamaah ini bukanlah tanpa persiapan. Jauh sebelum hilal teramati, pengurus Takmir Mushola Al-Amin telah bergerak aktif. Ketua Takmir, Fadli Hermawan, menceritakan bagaimana semangat kebersamaan melampaui rasa lelah bekerja.
“Sejak minggu kemarin, kami mengadakan aksi Rok’an atau kerja bakti massal. Teman-teman takmir dan jamaah menyisihkan waktu istirahat mereka untuk mengecat ulang tembok yang kusam, membersihkan setiap sudut ruangan, hingga mem-vakum karpet agar bebas debu. Kami ingin saat jamaah datang untuk tarawih, mereka merasa disambut oleh rumah yang bersih dan nyaman,” ungkap Fadli dengan wajah berseri.
Persiapan fisik ini, menurut Fadli, adalah bentuk penghormatan (ta’dzim) terhadap datangnya bulan suci. Ruangan yang kini nampak segar dan harum itu menjadi saksi bisu khidmah para pekerja migran terhadap agamanya meski berada jauh dari tanah air.

Tepat pukul 19.30 waktu setempat, shalat Isya berjamaah dimulai, disusul dengan rangkaian shalat Tarawih 23 rakaat termasuk Witir. Bertindak sebagai Imam, Bapak Ahmad Mukhni memimpin jalannya ibadah dengan bacaan yang tertata dan tenang.
Meski ruangan mushola dipadati hingga kapasitas maksimal, kekhusyukan tidak berkurang sedikit pun. Udara malam musim semi di Taiwan yang masih terasa dingin seolah hangat oleh semangat spiritualitas para jamaah yang datang dari berbagai penjuru Taoyuan dan Zhongli.

Mushola Al-Amin tidak hanya membatasi kegiatannya di dalam ruang ibadah. Fadli Hermawan memaparkan agenda padat yang telah disusun untuk sebulan penuh. Selain tadarus rutin setiap malam, Al-Amin akan bertransformasi menjadi pusat logistik sosial pada akhir pekan.
“InsyaAllah setiap Sabtu dan Minggu kami mengadakan buka puasa bersama untuk semua jamaah. Dan yang menjadi agenda unggulan, setiap Ahad sore, kami akan turun ke jalan di area belakang Stasiun Zhongli untuk membagikan takjil gratis. Kami ingin masyarakat lokal Taiwan juga melihat indahnya berbagi dalam Islam,” tambahnya.
Bagi para PMI yang sehari-hari bergelut dengan rutinitas pabrik atau pekerjaan rumah tangga, Ramadhan di perantauan membawa tantangan emosional tersendiri. Namun, di Mushola Al-Amin, rasa sepi itu terobati.

Salah seorang jamaah yang enggan disebut namanya mengaku matanya berkaca-kaca saat takbiratul ihram pertama. “Ada rasa haru yang luar biasa. Bahagia karena di bumi Formosa ini saya masih bisa merasakan suasana Ramadhan yang persis seperti di kampung halaman. Al-Amin ini bukan cuma mushola, tapi penawar rindu buat kami yang jauh dari keluarga,” tuturnya lirih.
Kegiatan malam itu diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan seluruh warga Indonesia di Taiwan. Pengurus berpesan agar para pekerja tetap memprioritaskan kesehatan dan memanfaatkan waktu istirahat dengan baik agar kewajiban bekerja dan ibadah tetap berjalan seimbang.
“Semoga Ramadhan ini menjadi madrasah bagi kita untuk menjadi hamba Allah yang lebih bertakwa, dan semoga setelah bulan ini berlalu, kita kembali menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” tutup Fadli penuh harap.
