Pererat Toleransi, Profesor National Pingtung University (NPTU) Ikuti Tradisi Buka Puasa PCINU Taiwan

Bagikan ke

Pingtung, Taiwan – Suasana berbuka puasa di PCINU Taiwan Ranting Pintung hari ini terasa berbeda. Jamaah kedatangan tamu istimewa, seorang dosen bidan filosofi pendidikan dari National Pingtung University (NPTU) salah satu kampus ternama di Taiwan dalam bidang pendidikan, Prof. Teddy, yang sengaja hadir untuk merasakan langsung pengalaman berbuka puasa bersama komunitas Muslim Indonesia (03/03/2026).

Tidak hanya sekadar hadir, Prof. Teddy bahkan turut berpuasa sejak pagi. Ia mengaku ingin merasakan sendiri bagaimana nikmatnya berbuka setelah menahan lapar dan dahaga seharian. Kehadirannya disambut hangat oleh pengurus dan warga PCINU Ranting Pintung.

Saat adzan Maghrib berkumandang, jamaah mengawali berbuka dengan kurma. Prof. Teddy pun mengikuti sunnah tersebut. Ia kemudian bertanya kepada Ustadz Taqiyuddin tentang alasan berbuka dengan kurma.

Ustadz Taqiyuddin menjelaskan, yang kemudian diterjemahkan oleh kang Ja’far salah satu mahasiswa kampus tersebut, bahwa berbuka dengan kurma selain merupakan sunnah Nabi Muhammad ﷺ juga bermanfaat secara kesehatan karena dapat mengembalikan energi tubuh yang hilang selama berpuasa. Kandungan gula alami dalam kurma membantu tubuh pulih dengan cepat setelah seharian tidak mendapat asupan makanan dan minuman.

Beliau juga menambahkan bahwa dianjurkan memakan kurma dalam jumlah ganjil. Selain mengikuti sunnah, hal tersebut selaras dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ:

“InnaLlaha witrun yuhibbul witr”

“Sesungguhnya Allah itu Maha Esa (ganjil) dan menyukai yang ganjil.”

Prof. Teddy kemudian menanggapi dengan menarik. Ia menjelaskan bahwa dalam filosofi Tiongkok, angka ganjil melambangkan unsur yang (matahari/cahaya), sedangkan angka genap melambangkan yin (bulan). Diskusi hangat tersebut menjadi momen dialog budaya dan spiritual yang penuh makna, mempertemukan nilai-nilai Islam dan filosofi tradisional Tiongkok dalam suasana persaudaraan.

Selain merasakan manisnya kurma, Prof. Teddy juga menikmati hidangan khas Indonesia yang disiapkan oleh warga ranting, serta mencicipi kopi khas Nusantara yang semakin menghangatkan suasana kebersamaan.

Di akhir acara, Prof. Teddy mengundang pengurus dan jamaah PCINU Ranting Pintung untuk menghadiri salah satu perayaan tradisional Taiwan . Ia menyampaikan bahwa dalam perayaan tersebut terdapat kue khas yang biasa disajikan kepada para tamu.dan sebagai rasa terimakasih PCINU ranting pintung memberikan hadiah sebuah Alqur’an terjemahan mandarin sebagai buah tangan untuk beliau dan beliau sangat senang dan mau mempelajarinya.

Momentum ini menjadi bukti bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga jembatan dialog lintas budaya dan agama. Di tanah minoritas, kebersamaan dan keteladanan justru menjadi bahasa dakwah yang paling indah. -Ustadz Taqiyudin-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *