Bagikan ke

Pagar Nusa Taiwan

Pagar Nusa (Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama) adalah badan otonom yang bertugas menggali, mengembangkan, dan melestarikan seni bela diri pencak silat sebagai warisan budaya Nusantara yang bernafaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Deskripsi Organisasi dan Filosofi Perjuangan

Pagar Nusa Taiwan tidak hanya mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga menekankan pada penguatan karakter melalui dzikir dan doa. Bagi para pekerja migran, Pagar Nusa menjadi sarana untuk menjaga kesehatan fisik, melatih mental juara, sekaligus mempererat ikatan persaudaraan (ukhuwah) di tanah perantauan. Sebagai benteng ulama, Pagar Nusa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga akhlak dan tradisi santri meskipun berada jauh dari pesantren.

Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Pagar Nusa

Fungsi utama Pagar Nusa di Taiwan mencakup aspek olahraga prestasi, pelestarian budaya, dan pertahanan spiritual.

Fokus Tugas Deskripsi Pelaksanaan
Pembinaan Olahraga Menyelenggarakan latihan rutin mulai dari senam dasar, teknik langkah, hingga teknik tarung/sabung.
Pelestarian Budaya Memperkenalkan filosofi gerak jurus silat asli Indonesia kepada masyarakat lokal Taiwan melalui pertunjukan seni.
Penguatan Karakter Melatih kedisiplinan diri dan sportivitas mental bagi generasi muda Nahdliyin.
Sinergi Organisasi Berpartisipasi dalam setiap agenda besar PCINU sebagai garda pengamanan kultural dan penampil seni.

Implementasi Program dan Atraksi Seni Unggulan

Aktivitas Pagar Nusa sering kali menjadi pusat perhatian dalam festival-festival budaya di Taiwan karena keunikan atraksinya yang memadukan keindahan gerak dan kekuatan fisik.

  • Kegiatan yang Sudah dan Sedang Berjalan
    • Pengesahan Anggota Serentak: Penyelenggaraan prosesi pengesahan secara massal bagi para anggota baru dari berbagai wilayah di Taiwan untuk meneguhkan identitas mereka sebagai pesilat NU.
    • Latihan Berjenjang dan Kurikulum Standar: Melaksanakan jadwal latihan rutin yang mencakup teknik kuda-kuda, pukulan, tangkisan, bantingan, hingga teknik kuncian.
    • Atraksi Seni pada Hari Santri Nasional: Menampilkan “Jurus Salam Pagar Nusa”, “Salam NU”, dan “Jurus Seni Tunggal” dalam perayaan Hari Santri di Changhua. Selain seni bela diri murni, mereka juga menunjukkan atraksi kekuatan (ekstrem) seperti makan lampu neon dan atraksi silet untuk menunjukkan kekayaan khazanah keilmuan tradisional.
    • Ramah Tamah dan Harlah Ke-40: Merayakan hari lahir organisasi dengan agenda silaturahmi yang memperkuat hubungan antar-ranting di seluruh Taiwan.
  • Rencana Kegiatan ke Depan
    • Studi Banding dan Kompetisi: Merencanakan kerja sama dengan perguruan silat lain di Taiwan untuk mengadakan studi banding dan pertandingan antar-perguruan guna mengukur perkembangan kemampuan teknis siswa.
    • Pengembangan Pencak Dor: Menghidupkan tradisi “Pencak Dor” (latihan tarung bebas yang aman) sebagai sarana mengaplikasikan teknik yang telah dipelajari dalam situasi yang lebih dinamis.
    • Diplomasi Budaya Melalui Media Sosial: Mengoptimalkan publikasi kegiatan melalui media sosial untuk menarik minat pekerja migran muda dan memberikan pemahaman mengenai filosofi bela diri yang tidak hanya soal fisik, tapi juga tentang akhlak.