Yoman Bareng Shoufa

Bagikan ke

Taiwan – Sudah tidak asing di kalangan warga Indonesia yang ada di Taiwan, khususnya para aktifis sholawat atau warga muslim di Taiwan yang aktif di majlis-majlis dzikir dan sholawat. Sangat masyhur sekali ketika kita mendengar istilah kata Shoufa. Shoufa merupakan akronim dari Shoutul Fata.

Salah satu Grup Hadrah ternama di Taiwan yang sering kali menjadi pengiring ketika ada event besar yang bertajuk Sholawat ataupun Tabligh Akbar. Tidak jarang ketika Habib Syekh melakukan rihlah sholawat ke Taiwan, sudah menjadi barang pasti arranger nya adalah Shoutul Fata. Hampir setiap ada tokoh ataupun munsyid yang populer datang ke Taiwan untuk melantunkan sholawat, seperti Habib Ali Zaenal Abidin, Habib Anis, Abah Anza dll, pasti di balik meriahnya event tersebut ada harmoni indah yang di mainkan oleh Shoutul Fata.

Mereka adalah pemuda-pemuda cadas nan cerdas penuh kreatifitas yang sedang mengembara mewujudkan cita-cita, thalabul ma’isyah. Selain bekerja, mereka juga berkarya. Yoman bukan? Yoman dong..

Karya mereka, berani melantangkan suara-suara aroma khas surgawi di tengah gersangnya bumi. Bumi yang sudah di telan oleh millenialnya zaman. Dimana segala sesuatu bisa di halalkan, yang asalnya baik bisa menjadi buruk dan yang buruk semakin lebih buruk. Namun, dengan hadirnya Shoutul Fata menjadi magnet sekaligus wasilah di tengah gempuran zaman melalui nada-nada indah untuk terus melantunkan pujian pada Al-Mushtofa.

Shoutul Fata adalah salah satu sayap dakwah yang berada di tubuh NU Taichung sekaligus wadah bagi anak-anak muda dalam menyalurkan bakat seni vokal islami dengan perpaduan alat musik perkusi atau rebana sehingga bisa menghasilkan instrumen dengan distorsi ala santri. Tidak hanya perkusi yang mereka mainkan, bakat seni mereka aplikasikan dengan alat musik berdawai atau kordofon dengan menghadirkan musik gambus sehingga suasana harmoni semakin kearab-araban dengan karakter vokal yang khas.

Gambus yang mereka mainkan di gelar setiap minggu kedua di depan Taichung Station. Kalau boleh mengistilahkan, Santri Fair. Bukan sekadar pameran, mereka mensyiarkan dan mensyairkan Islam dengan senandung syair-syair indah untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman melalui karya sastra atau seni. Dengan syiar, mereka mengenalkan, mengajak dan memotivasi orang untuk lebih memahami ajaran agama Islam. Melalui syair, ini menjadi sebuah aktifitas untuk melantunkan sholawat, syair ataupun qashidah demi tersampaikan pesan-pesan moral dan kebaikan.

Selain kegiatan tersebut, Shoutul Fata juga selalu mendawamkan sebuah kegiatan yang sudah menjadi ciri khas seorang santri, yaitu pembacaan Maulid Al-Barzanji. Ya, setiap malam ahad mereka dengan penuh antusias untuk melakukan kegiatan yang sudah di rutinkan selama bertahun-tahun. Sungguh, pemuda yang keren, di zaman sekarang era millenial di tengah negara yang mayoritas non muslim mereka selalu menyempatkan waktu liburan demi untuk menyampaikan pesan rindu pada sang Khatamul Anbiya. Tidak sedikit dari mereka ketika hari sabtu selesai bekerja di sore hari, mereka segera bergegas penuh semangat untuk hadir di acara rutinan mereka.

Tepatnya di hari sabtu, 13 juni 2026, Shoutul Fata menginjak usia yang ke-6. Usia dimana sebuah fase yang sangat signifikan dalam perjalanan tumbuh-kembang sebuah perkumpulan. Sudah beberapa regenerasi hingga sekarang tongkat estafet Shoutul Fata masih berdiri kokoh di bawah naungan PCINU Taiwan Ranting Taichung. Sebuah kota terbesar kedua di Taiwan yang terletak di bagian barat-tengah dengan jangkauan yang strategis untuk berlibur. Selain pesona alam yang indah dengan tata kota modern, Taichung juga sangat terkenal dengan istilah Kota Santri. Maka tak heran, jika di Kota Taichung selain ada sekretariat PCINU, ada sebuah Masjid Agung yang sudah lama berdiri, Musholla-musholla yang di dirikan oleh PMI, dan berbagai Organisasi serta Majlis Ta’lim.

Di hari itu, Shoutul Fata merayakan miladnya yang ke-6 dengan tema—duduk bareng sahabat sambi nyebat setelah bersholawat. Mencerminkan sebuah kehangatan dan keakraban antar sahabat di dunia perantauan dengan terus menjalin kerukunan serta menciptakan suasana kekeluargaan. Tergambar satu ritme kehidupan penuh kedisiplinan, kesederhanaan, kebersamaan dan pembelajaran. Aura santrinya sangat kuat sekali ketika aroma wangi kopi di sajikan sembari mendengarkan lantunan indah adzan isya laksana atmosfer di pesantren.

Perayaan milad ke-6 Shoutul Fata, bukan sekadar selebrasi dan seremoni, melainkan sebuah interpretasi akan seni. Menjadikan energi untuk terus berkreasi dan berinovasi sekaligus apresiasi tinggi atas prestasi santri yang terus menjaga karakteristik di tengah tantangan zaman. Karakter seorang santri menjaga nilai moral, spiritual dan sosial. Dimanapun berada karakter itu harus tetap melekat dengan terus mengaji untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Saking pentingnya ngaji, Imam Syafi’i pernah berkata dalam sebuah syi’ir:

حياة الفتي والله بالعلم والتقي * اذا لم يكونا لاعتبار لذاته

Demi Allah, kehidupan manusia di tentukan oleh ilmu dan takwa. Apabila keduanya sudah tidak ada, maka tidak ada lagi harga diri pada dirinya.

‘Ied milad sa’id Shoutul Fata, kullu ‘am wa wantum bikhoir, wabialfi alfi mabruk ilaikum.

Penulis: Chorie Day

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *