Rapat Anggota PRFNU Kaohsiung 2026: Menyatukan Langkah Menuju Organisasi yang Berdaya, Berkarya, dan Berkelanjutan

Bagikan ke

Kaohsiung — Rapat Anggota Pimpinan Ranting Fatayat Nahdlatul Ulama (PRFNU) Kaohsiung diselenggarakan pada Ahad, 19 Juli 2026, di Sekretariat PCINU Kaohsiung. Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh kehangatan ini menjadi forum penting bagi para kader untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus memperkuat komitmen dalam melanjutkan pengabdian Fatayat NU di Kaohsiung.

Mengusung tema “Meneguhkan Komitmen untuk Mewujudkan PRFNU Kaohsiung yang Berdaya, Berkarya, dan Berkelanjutan”, rapat anggota tersebut tidak hanya dilaksanakan sebagai bagian dari amanat organisasi. Forum ini juga menjadi momentum untuk menyatukan langkah, memperkuat solidaritas, serta merumuskan arah kepengurusan dan program organisasi agar semakin relevan, produktif, dan memberikan manfaat nyata bagi anggota maupun masyarakat.

Bagi para kader Fatayat NU yang hidup jauh dari kampung halaman, pertemuan ini juga menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan dan menjaga semangat kebersamaan di tanah rantau. Dalam suasana yang terbuka dan penuh kekeluargaan, para peserta saling menyampaikan gagasan, mendengarkan aspirasi, dan meneguhkan tekad untuk menjaga keberlanjutan organisasi serta meneruskan estafet pengabdian kepada generasi berikutnya.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan Shalawat Badar yang dibacakan oleh Sahabat Farikah dan Sahabat Euis Patimah. Bacaan yang mengalun lembut itu seakan menenangkan hati setiap peserta, mengingatkan bahwa setiap langkah perjuangan hendaknya selalu bermula dari memohon ridho Allah SWT.

Acara dipandu dengan penuh kehangatan oleh Sahabat Siti Rupingah selaku pembawa acara. Suasana semakin khidmat saat seluruh peserta bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Fatayat NU. Lagu-lagu itu tidak hanya menggema di ruangan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat nasionalisme, kecintaan kepada Nahdlatul Ulama, dan tekad untuk terus mengabdi di mana pun berada.

Dalam sambutannya, Mas Nur Mahmudi selaku Ketua Tanfidziyah PCINU Kaohsiung menyampaikan pesan yang menguatkan seluruh kader agar senantiasa istiqamah berkhidmah melalui Banom Fatayat NU. Beliau mengingatkan untuk saling bersinergi dan ikhlas melayani, saling menghargai, serta terus menjaga ukhuwah di tengah keberagaman.

Persidangan kemudian dipimpin oleh Sahabat Anggie dari PCIFNU Taiwan. Dilanjutkan pembacaan tata tertib oleh Sahabat Ning Hafiz selaku Sekretaris PRFNU Kaohsiung, kemudian penyampaian Laporan Pertanggungjawaban oleh Sahabat Seny sebagai Ketua PRFNU Kaohsiung Masa Khidmat 2024–2026.

Setiap laporan yang disampaikan bukan sekadar deretan program yang telah terlaksana. Di baliknya tersimpan kisah tentang waktu yang dikorbankan, tenaga yang dicurahkan, serta doa-doa yang mengiringi setiap langkah pengabdian. Setiap keberhasilan menjadi rasa syukur, setiap kekurangan menjadi bahan evaluasi, dan setiap masukan menjadi bekal untuk melangkah lebih baik.

Lalu tibalah pada satu sesi yang membuat suasana berubah menjadi begitu haru, prosesi demisioner.

Tak sedikit mata yang mulai berkaca-kaca. Ada air mata yang jatuh perlahan, bukan karena perpisahan, melainkan karena rasa syukur atas perjalanan yang telah dilewati bersama. Sebab dalam organisasi, pergantian kepemimpinan bukanlah akhir dari pengabdian. Ia adalah estafet perjuangan, ketika satu tangan mengikhlaskan amanah, lalu tangan yang lain menyambutnya dengan penuh tanggung jawab.

Saat itulah semua kembali diingatkan bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan pengabdian adalah jejak yang akan tetap hidup bahkan setelah masa kepengurusan berakhir.

Pemilihan Ketua Pimpinan Ranting Fatayat NU Kaohsiung Masa Khidmat 2026–2028 kemudian dilaksanakan secara demokratis melalui mekanisme voting yang dipandu oleh panitia, Sahabat Ningsih Alya, dan Sahabat Fika.

Empat nama terbaik hadir sebagai putri-putri pilihan Fatayat NU yang siap mengabdikan diri:

  • Sahabat Rafita Saprilia
  • Sahabat Ningziana
  • Sahabat Faidah
  • Sahabat Aslamiyah

Setiap nama membawa harapan. Setiap calon membawa niat yang sama, yaitu memberikan yang terbaik bagi Fatayat NU. Perbedaan pilihan tidak pernah menjadi alasan untuk memudarinya persaudaraan. Sebaliknya, demokrasi yang dijalankan dengan penuh kedewasaan justru menjadi bukti bahwa organisasi ini dibangun di atas musyawarah, saling menghormati, dan rasa percaya.

Barakallahu fiik.

Selamat dan sukses kepada Sahabat Rafita Saprilia yang telah mendapatkan amanah sebagai Ketua Pimpinan Ranting Fatayat NU Kaohsiung Masa Khidmat 2026–2028.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, hikmah, kemudahan, dan keberkahan dalam setiap langkah kepemimpinan. Semoga di bawah kepemimpinan yang baru, PRFNU Kaohsiung semakin kokoh dalam persaudaraan, semakin berani melahirkan karya, semakin berdaya menghadapi tantangan zaman, serta terus berkelanjutan dalam menebarkan manfaat bagi umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Rasa hormat dan terima kasih yang mendalam juga disampaikan kepada seluruh pengurus demisioner, panitia, anggota, dan semua pihak yang telah menghadiahkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan doa terbaiknya untuk organisasi ini. Tidak semua perjuangan terlihat, tidak semua pengorbanan mendapat tepuk tangan. Namun Allah Maha Mengetahui setiap niat yang tulus dan setiap langkah kecil yang ditempuh demi kemaslahatan bersama.

Sesungguhnya organisasi tidak menjadi besar karena nama-nama yang tercantum dalam susunan kepengurusan. Organisasi tumbuh karena ada orang-orang yang memilih tetap hadir ketika lelah, tetap melayani ketika tidak terlihat, tetap tersenyum ketika diuji, dan tetap berjalan meski langkahnya tak pernah disorot.

Itulah makna sejati dari tema yang diusung tahun ini. Meneguhkan komitmen berarti menjaga api pengabdian agar tidak padam. Berdaya berarti mampu menguatkan diri dan sesama. Berkarya berarti menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dan berkelanjutan berarti memastikan bahwa nilai-nilai perjuangan terus diwariskan, sehingga Fatayat NU akan selalu hidup, tumbuh, dan memberi cahaya bagi generasi berikutnya.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan akan berganti, masa khidmat akan selesai, dan nama-nama akan bergeser dalam susunan kepengurusan. Namun cinta kepada organisasi, persaudaraan yang terjalin, serta amal pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap hidup, mengalir menjadi pahala yang tak pernah putus.

“Amanah adalah kehormatan, bukan kebanggaan. Ia bukan sesuatu yang dimiliki, melainkan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Ketika dijalankan dengan hati yang ikhlas, setiap langkah perjuangan akan menjelma menjadi doa, setiap pengabdian akan menjadi amal jariyah, dan setiap jejak kebaikan akan terus hidup, bahkan ketika nama kita telah selesai disebut dalam kepengurusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *