Chiayi, Taiwan – Pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, sebuah peristiwa sederhana namun menggetarkan hati terjadi di tengah aktivitas dakwah para dai Indonesia di Taiwan. Seorang warga Taiwan datang menghampiri secara tiba-tiba di Mushala PCI NU Taiwan Ranting Chiayi dengan maksud yang awalnya belum dipahami. Perbedaan bahasa membuat komunikasi terasa sulit, namun dengan bantuan teknologi penerjemah akhirnya maksud kedatangannya menjadi jelas: ia ingin mengenal Islam lebih dekat dan menyatakan keinginannya untuk memeluk agama Islam.

Proses pembimbingan syahadat tersebut dipandu oleh Ust. Rifki Yusak, dai program Da’i Go Global Worldwide Dakwah LD PBNU, bersama Gus Ari Syamsudin selaku Ketua Tanfidziyah PCI NU Taiwan Ranting Chiayi.
Momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Di negeri rantau yang jauh dari tanah air, pertemuan singkat itu menjadi tanda bahwa hidayah Allah bisa datang melalui cara yang tidak disangka-sangka.
Dengan kemampuan yang terbatas, penjelasan tentang dasar-dasar Islam disampaikan secara sederhana, mulai dari keesaan Allah, kerasulan Nabi Muhammad SAW, hingga makna dua kalimat syahadat sebagai pintu masuk agama Islam.
Proses pembimbingan berlangsung sekitar setengah jam. Dengan penuh kesungguhan, warga Taiwan tersebut mencoba mengikuti lafaz yang diajarkan. Setelah resmi memeluk Islam, ia kemudian diberi nama Muhammad Aqin. Meskipun pelafalannya belum sempurna, terlihat jelas kesungguhannya dalam memahami setiap kalimat yang diucapkan.
Akhirnya ia mampu melafalkan dua kalimat syahadat dan memahami maknanya. Momen tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri, sekaligus pengingat bahwa dakwah tidak selalu berlangsung di mimbar atau forum besar, tetapi sering hadir melalui pertemuan sederhana dan percakapan singkat yang tulus.
Peristiwa ini juga menjadi bagian dari perjalanan dakwah yang terus berkembang di Taiwan. Ketua Lembaga Dakwah PCI NU Taiwan, Gus Harus, menyampaikan bahwa perkembangan muallaf di Taiwan menunjukkan tren yang sangat menggembirakan.
Menurutnya, sejak tahun 2022 hingga 28 Februari 2026 tercatat sebanyak 566 orang muallaf telah bersyahadat melalui pendampingan dai-dai di lingkungan PCI NU Taiwan, baik di tingkat cabang maupun ranting.
“Sejak tahun 2022 sampai sekarang tercatat sudah 566 muallaf yang bersyahadat melalui PCI NU Taiwan, baik cabang maupun ranting,” ujar Gus Harus.
Angka tersebut menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan para dai dan relawan di tengah komunitas Pekerja Migran Indonesia tidak hanya melayani kebutuhan keagamaan sesama PMI, tetapi juga menjangkau masyarakat lokal Taiwan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Taiwan bukan hanya menjadi tempat bekerja bagi para migran Indonesia, tetapi juga menjadi ladang dakwah yang subur. Banyak warga lokal yang tertarik mengenal Islam melalui interaksi sehari-hari dengan para pekerja migran Indonesia yang dikenal ramah, santun, dan penuh toleransi.
Di negeri Formosa ini, dakwah sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana percakapan di tempat kerja, pertemuan di jalan, atau diskusi ringan yang kemudian membuka jalan menuju hidayah.
Keberhasilan mendampingi ratusan muallaf tersebut menjadi bukti bahwa semangat Da’i Go Global yang diusung Nahdlatul Ulama bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan nyata para dai di perantauan.
Kisah seorang warga Taiwan yang bersyahadat di Mushala PCI NU Taiwan Ranting Chiayi pada Sabtu, 28 Februari 2026 ini hanyalah satu dari ratusan kisah hidayah yang terjadi di Taiwan. Namun setiap syahadat tetap memiliki makna yang istimewa, karena di baliknya ada perjalanan pencarian kebenaran dan tangan-tangan sederhana yang menjadi perantara dakwah.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan para perantau Indonesia, cahaya Islam terus menyala pelan namun pasti menembus batas bahasa, bangsa, dan negara. (Ustad Rifqy Yusak)
