Taipei, Taiwan — Tim Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Taiwan kembali menyelenggarakan Dirasah Falakiyah III pada Ahad, 1 Maret 2026, bertempat di Sekretariat PCINU Taiwan. Kegiatan ini mengangkat dua fokus utama, yakni perhitungan arah kiblat serta hisab penentuan awal bulan Hijriah, sebagai upaya memperkuat literasi dan keterampilan praktis falakiyah bagi masyarakat Indonesia di Taiwan.

Dirasah Falakiyah III dirancang sebagai forum pembelajaran yang aplikatif, agar peserta dapat memahami sekaligus mempraktikkan dasar-dasar perhitungan falak untuk kebutuhan ibadah sehari-hari dan penentuan kalender hijriah. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung mulai pukul 09.00 (Waktu Taiwan), dan terbuka untuk umum.

Dalam pelaksanaannya, peserta akan mendapatkan pembahasan dan praktik mengenai:
- Perhitungan arah kiblat (penentuan azimut kiblat dan verifikasi arah)
- Perhitungan hisab awal bulan Hijriah (pemahaman konsep serta penerapan berbasis data astronomi)
Narasumber utama kegiatan ini adalah Muhammad Ainul Yaqin dan M. Taufiqul Huda dari Tim LFNU Taiwan, yang menekankan bahwa kebutuhan falakiyah di konteks perantauan memiliki tantangan tersendiri, khususnya di wilayah perkotaan.

Menjawab pertanyaan terkait tantangan terbesar penentuan arah kiblat dan awal bulan Hijriah bagi WNI yang tinggal di apartemen atau kawasan urban Taiwan, M. Taufiqul Huda menjelaskan adanya perbedaan karakter tantangan pada dua topik tersebut. Untuk penentuan arah kiblat, tantangan utama sering muncul dari faktor cuaca, terutama saat observasi memerlukan acuan bayangan matahari.
“Untuk menentukan arah kiblat selalu berhadapan dengan tantangan cuaca. Jika cuaca mendung maka untuk mendapatkan acuan bayangan matahari sulit didapatkan atau dilihat,” jelasnya.

Sementara itu, untuk hisab awal bulan Hijriah, ia menyebut tantangannya relatif kecil karena proses perhitungan kini dapat dilakukan secara efisien.
“Untuk hisab awal bulan hampir tidak memiliki tantangan, karena perhitungan cukup mudah menggunakan perangkat lunak astronomi atau basis data posisi benda langit dari lembaga riset,” imbuhnya.
Dirasah Falakiyah III menargetkan luaran yang jelas dan terukur: peserta diharapkan mampu melakukan perhitungan secara mandiri dan dapat menerapkannya di komunitas masing-masing.
“Luaran yang diharapkan adalah peserta mampu melakukan perhitungan arah kiblat dan hisab awal bulan di setiap daerah/ranting di Taiwan,” ujar M. Taufiqul Huda.

Agar peserta awam dapat memahami materi yang sering dianggap rumit, pelatihan ini menggunakan pendekatan simulasi dan praktik langsung dengan perangkat lunak astronomi.
“Metode yang paling praktis untuk simulasi adalah menggunakan perangkat lunak astronomi terbuka yaitu Stellarium yang tersedia di platform Android atau Windows,” jelasnya.
Penggunaan aplikasi ini diharapkan memudahkan peserta memvisualisasikan posisi benda langit, memahami konsep dasar astronomi, serta menghubungkannya dengan praktik falakiyah.

Dalam wawancara terpisah, Wakil Tanfidziyah PCINU Taiwan, Bapak Kholiq, menegaskan pentingnya peran LFNU dalam layanan keagamaan komunitas Indonesia di Taiwan. Ia berharap LFNU semakin berkembang dan dikenal luas, baik oleh PMI maupun mahasiswa.
“Harapannya LFNU ke depan menjadi lembaga yang lebih berkembang lagi, dikenal oleh banyak kalangan PMI dan mahasiswa di Taiwan karena perannya sangat krusial dalam menentukan jadwal sholat, rukyatul hilal, akurasi arah kiblat, dan lainnya.”
Antusiasme peserta turut memperlihatkan relevansi program ini. Moh. Jabir Mubarok (ISNU Taiwan) menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat nyata, terutama untuk memperkaya wawasan praktis falakiyah.
“Sangat bermanfaat dan memberikan khazanah keilmuan baru buat kami terkait perhitungan arah kiblat dan hisab awal bulan hijriah.”
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari ikhtiar penguatan edukasi falakiyah komunitas, sekaligus memperluas jejaring pegiat falak di Taiwan melalui diskusi dan praktik bersama.
Do you like this personality?
