TAIPEI, TAIWAN – Suasana khidmat menyelimuti Gedung Taipei Wanhua New Immigrant’s Hall pada Minggu (01/02/2026), saat ratusan perempuan nahdliyin berkumpul dalam perhelatan akbar Konferensi Cabang Istimewa (Konfercabis) V sekaligus peringatan Harlah ke-13 Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Fatayat NU Taiwan. Forum permusyawaratan tertinggi tiga tahunan ini menjadi kompas strategis untuk mengevaluasi kinerja sekaligus menentukan arah organisasi di masa depan.

Momentum ini terasa kian istimewa dengan kehadiran tokoh sentral dari Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU, yakni Ketua Umum Ning Margareth Aliyatul Maemunah dan Bendahara Umum Ning Wildatu Sururoh. Kehadiran mereka di tengah para kader di Taiwan menjadi simbol kuatnya sinergi antara pusat dan cabang istimewa dalam memperjuangkan hak-hak perempuan migran di mancanegara.
Dalam sambutannya, perwakilan KDEI Taipei, Ibu Mira Kaliandra, memberikan apresiasi mendalam terhadap eksistensi Fatayat yang memiliki basis massa luas, baik dari kalangan pekerja maupun mahasiswa. Beliau menitipkan pesan agar para kader mampu membawa dampak yang lebih luas saat kembali ke tanah air nanti.
“Fatayat dengan kader yang tersebar di penjuru Taiwan, harapannya harus bisa menjadi wadah bertumbuh bagi para perempuan di tanah rantau. Sehingga tidak hanya remitansi uang saja, juga remitansi sosial yang tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan tetangga, juga untuk masyarakat,” ujar Mira.

Selain pemberdayaan ekonomi dan sosial, tantangan di era siber juga menjadi sorotan tajam. Mengingat maraknya kasus penipuan daring yang menyasar pekerja migran, Mira mengimbau agar kader Fatayat melek hukum dan waspada terhadap kejahatan digital. Hal ini senada dengan instruksi tegas dari Ketua Umum PP Fatayat NU, Ning Margareth.
“Kader Fatayat wajib melek digital. Bukan hanya yang viral-viral saja, tapi juga belajar sadar dengan kejahatan-kejahatan digital yang tengah marak,” tegas Ning Margareth di hadapan ratusan peserta.
Semangat transformasi tersebut kemudian dikerucutkan ke dalam agenda utama Konfercabis, yakni laporan pertanggungjawaban dan pemilihan nahkoda baru untuk masa khidmah 2026-2028. Ning Margareth mengingatkan bahwa beban kepemimpinan di Taiwan memiliki tantangan unik yang menuntut solidaritas tinggi.

“Hari ini yang utama adalah memilih ketua, tapi sejatinya ketua tidak jalan sendiri. Tentu membutuhkan kolektif kolegial secara bersama-sama menjadi satu. Kuncinya adalah satu: membawa organisasi dan diri sendiri lebih baik dari kemarin,” tambahnya.
Harapan senada juga disampaikan oleh Ketua Tanfidziyah PCINU Taiwan, Muhammad Ghofur. Beliau menekankan bahwa Konfercabis V harus menjadi rahim bagi lahirnya kepemimpinan yang sistematis dan inklusif.
“Semoga Konfercabis ke-5 ini melahirkan kepengurusan yang solid, saling menguatkan, serta mampu bekerja secara kolektif-kolegial demi kemajuan Fatayat NU Taiwan. Kita harapkan Fatayat semakin serius dalam mencetak kader perempuan yang militan, berwawasan keislaman moderat, serta siap menjadi pemimpin di berbagai ruang pengabdian,” pungkas Ghofur.

Dengan partisipasi aktif dari tujuh ranting di seluruh penjuru Taiwan, Konfercabis V ini resmi menetapkan langkah baru bagi Fatayat NU Taiwan untuk tetap istiqamah menjadi penjaga nilai Islam rahmatan lil ‘alamin di Bumi Formosa.
