TAIPEI – Di balik gemerlap kemajuan ekonomi negeri Formosa, terselip kisah-kisah perjuangan yang berakhir dalam sunyi. Menutup kalender tahun 2025, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan bersama Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei mencatatkan dedikasi kemanusiaan yang luar biasa dalam menjaga kehormatan para pejuang keluarga yang gugur di perantauan.
Bukan sekadar angka, sebanyak 130 jenazah warga negara Indonesia (WNI) telah melalui proses pemulasaran yang khidmat sepanjang tahun 2025. Yang luar biasa, sinergi ini menembus sekat-sekat administratif. Pelayanan diberikan secara penuh tanpa pandang bulu; mulai dari PMI resmi, PMI Overstay (PMIO), WNI Overstay, hingga raga mungil anak-anak dari pekerja migran yang tidak memiliki dokumen resmi.

Dalam suasana religius pada acara Istighotsah Akhir-Awal Tahun dan Peringatan Isra’ Mi’raj di Taipei, Bapak Wawan, Kabag Admin sekaligus perwakilan KDEI Taipei, memberikan testimoni yang menyentuh.
“KDEI Taipei sangat mengapresiasi kehadiran PCINU Taiwan sebagai mitra strategis. Kami berharap ikatan sinergi ini terus kokoh, menjadi garda terdepan dalam memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi para pahlawan devisa kita. Ini adalah tugas suci memastikan mereka pulang dalam keadaan mulia,” tutur Bapak Wawan.

Menerima estafet harapan tersebut, Ketua Tanfidziyah PCINU Taiwan, Muhammad Ghofur, menegaskan kesiapan seluruh jajaran nahdliyyin di Taiwan untuk terus menjadi pelayan umat. Namun, di balik kesigapan tim pemulasaran, tersimpan doa yang jauh lebih dalam bagi warga Indonesia yang masih berjuang.
“Kami menyambut tanggung jawab ini dengan takzim. Namun, doa terbesar kami tetap sama, semoga Allah SWT membentengi setiap langkah PMI di tanah Formosa dengan perlindungan-Nya. Kami ingin mereka pulang membawa kesuksesan, bukan sekadar nama dalam daftar kepulangan jenazah,” ujar Ghofur dengan nada bergetar saat ditemui tim nutaiwan.com.

Langkah nyata PCINU Taiwan dan KDEI Taipei ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di mana pun kaki berpijak, persaudaraan sebagai satu bangsa tak akan pernah luruh oleh status dokumen. Pemulasaran 130 jenazah ini adalah bukti bahwa negara dan organisasi hadir untuk memeluk mereka, bahkan di saat terakhir perjalanan hidup mereka di negeri orang.
