Istighosah Kebangsaan di Chiayi, Warga Indonesia Teguhkan Cinta Tanah Air dari Negeri Rantau

Bagikan ke

Chiayi – Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa hangat di kalangan masyarakat Indonesia di Chiayi, Taiwan. Melalui kegiatan Istighosah Kebangsaan, warga Indonesia berkumpul untuk berdoa bersama sekaligus meneguhkan rasa cinta dan bangga terhadap Tanah Air, meski saat ini hidup dan bekerja jauh di negeri perantauan.

Kegiatan yang digelar di Mushola Chiayi, PCINU Taiwan Ranting Chiayi, pada Sabtu malam, 15 Agustus 2026, tersebut dihadiri oleh Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo, serta Gus Faruq Maftukhi. Sejumlah forum dan organisasi masyarakat Indonesia di Chiayi, pengurus serta jamaah Mushola Chiayi, para Pekerja Migran Indonesia (PMI), hingga perwakilan toko-toko Indonesia di wilayah Chiayi turut memeriahkan kegiatan.

Istighosah Kebangsaan digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, acara ini juga menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat Indonesia untuk kembali mengingat nilai persatuan, nasionalisme, serta pentingnya menjaga rasa memiliki terhadap bangsa dan negara. Meski berada ribuan kilometer dari Tanah Air, semangat kemerdekaan tetap hidup di tengah masyarakat Indonesia di Taiwan. Melalui doa dan kebersamaan, para peserta diajak menyadari bahwa kecintaan terhadap Indonesia tidak dibatasi oleh jarak maupun tempat tinggal.

Doa Bersama dan Tausiah Kebangsaan

Rangkaian kegiatan diisi dengan istighosah dan doa bersama untuk Indonesia, dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan oleh Gus Faruq Maftukhi. Dalam tausiahnya, jamaah diajak untuk menjadikan momentum kemerdekaan sebagai sarana memperkuat rasa syukur, persaudaraan, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan menjadi bagian yang saling menguatkan, terutama bagi masyarakat Indonesia yang sedang berada di luar negeri.

“Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari semangat perjuangan kyai dan santri dalam melawan penjajah. Dari Pangeran Sabrang lor yang syahid melawan Portugis, kemudian Pangeran Diponegoro yang merupakan santri Syeikh Baidhowi bagelen Purworejo dan santri dari KH Hasan Besari Ponorogo. Di tanah Madura ada KH Abdullah Sajad yang syahid dibunuh Belanda ketika sedang sujud dalam shalatnya. Di Lampung ada KH Hanafiah yang juga syahid dibunuh Belanda, hadlratusyaikh Hasyim Asy’ari dengan resolusi jihadnya, KH Subkhi temanggung dengan bambu runcingnya dan sebagai penasehat spiritual Jendral Soedirman.”, Ujar Gus Faruq

“Tidak ada alasan untuk tidak mencintai Indonesia. Karena Indonesia dibangun atas jasa para alim Ulama’, Santri dan darah para syuhada'”, lanjut Gus Faruq.

Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa warga Indonesia di perantauan tetap memiliki peran dalam menjaga nama baik bangsa. Sikap saling menghormati, menjaga kerukunan, bekerja dengan baik, serta membangun solidaritas sesama warga Indonesia menjadi bentuk nyata kontribusi terhadap Tanah Air. Kehadiran berbagai kelompok masyarakat dalam satu majelis juga memperlihatkan kuatnya semangat persaudaraan warga Indonesia di Chiayi. Perbedaan latar belakang pekerjaan maupun organisasi tidak menjadi penghalang untuk duduk bersama dan memanjatkan doa bagi bangsa Indonesia.

Kepala KDEI Taipei Berdialog dengan PMI

Selain istighosah dan tausiah, acara juga diisi dengan sambutan dari Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo. Kehadiran Kepala KDEI Taipei menjadi kesempatan bagi masyarakat Indonesia, khususnya para PMI yang hadir, untuk berinteraksi secara langsung dengan pihak perwakilan Indonesia di Taiwan.

Dalam kesempatan tersebut juga dibuka sesi tanya jawab antara KDEI Taipei dengan jamaah dan PMI. Para peserta dapat menyampaikan pertanyaan maupun berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan dan pekerjaan masyarakat Indonesia selama berada di Taiwan. Dialog tersebut menambah nilai penting kegiatan Istighosah Kebangsaan. Selain menjadi ruang spiritual dan kebangsaan, acara juga menjadi wadah komunikasi serta mempererat hubungan antara masyarakat Indonesia di daerah dengan perwakilan pemerintah Indonesia di Taiwan.

Menjaga Indonesia dari Tanah Rantau

Peringatan kemerdekaan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri memiliki makna tersendiri. Jauh dari kampung halaman membuat rasa kebersamaan dan kerinduan terhadap Indonesia semakin terasa. Karena itu, Istighosah Kebangsaan di Chiayi bukan sekadar kegiatan seremonial dalam menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia. Pertemuan tersebut menjadi bentuk nyata bahwa semangat nasionalisme tetap dapat tumbuh dan dirawat di mana pun warga Indonesia berada.

Dengan hadirnya organisasi masyarakat, komunitas, jamaah, PMI hingga para pelaku usaha dan toko Indonesia di Chiayi, kegiatan ini sekaligus memperkuat jejaring persaudaraan masyarakat Indonesia di wilayah tersebut. Dari Mushola Chiayi, doa-doa untuk Indonesia dipanjatkan. Dari negeri rantau, kecintaan kepada Merah Putih kembali diteguhkan.

Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia. Bersatu, berdaulat, rakyat sejahtera, Indonesia maju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *